Sudah sekitar dua tahun 141 orang mengungsi di wisma Transito, Mataram - Lombok, Nusa Tenggara Barat. Para pengungsi itu terusir dari tempat tinggalnya dan terjarah harta bedanya karena mereka adalah pemeluk Ahmadiyah.
Fatwa MUI yang keluar sekitar September 2005 menyatakan Ahmadiyah adalah aliran sesat. Fatwa ini seolah menjadi pembenaran muslim Indonesia kebanyakan untuk mengusir, menganiaya dan menjarah harta benda pemeluk Ahmadiyah. Kasus di Lombok adalah salah satunya.
Salah satu anak jemaah Ahmadiyah, SolehatunNissa menderita lumpuh layu, tetapi orang tuanya tidak dapat mengobati anaknya, masalahnya adalah biaya. Mereka tidak lagi mampu membiayai pengobatan anaknya.
Semenjak diusir warga, Nasifuddin, ayah SolehatunNissa kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariannya. Untuk menyambung hidup, ia menjadi buruh panggul di pasar dan mendapat pendapatan sebesar tiga ribu hingga empat ribu rupiah per harinya.
Begitupula musibah yang menimpa Marfuddin, salah satu jemaah Ahmadiyah. Ia diusir dari rumahnya pada tahun 2005. Kesaksiannya menyatakan bahwa yang mengusir adalah kepala desa, camat dan kapolsek setempat. "Pokoknya orang Ahmadiyah ga boleh tinggal !" begitu ia menirukan sang pengusir. Ia melawan karena tahu akan haknya, tetapi ia tak berdaya. Harta bendanya habis dijarah. Banyak pula jemaah lain yang dihancurkan rumahnya bahkan dibakar. Hanya karena mereka berbeda.
Para pengungsi Jemaah Ahmadiyah lalu menyingkir dan ditampung di wisma Transito oleh pemerintah setempat dan mendapat jatah hidup. Namun semenjak Januari 2007 bantuan tersebut pun dihentikan dengan alasan "kita serahkan ke tingkat provinsi". Melempar tanggung jawab ?
Kondisi pengungsi pun memburuk. Maka, ada pengungsi yang makan talas, atau ubi sisa dari pasar. Tidak ada lagi bantuan beras.
Pada 2005 saat MUI menyatakan fatwa tersebut, jemaah Ahmadiyah diputus sesat secara sepihak. MUI di Lombok menghimpun dukungan dari massa dan mengumpulkan tanda tangan dari beberapa pihak, tapi tak pernah meminta dari pihak Ahmadiyah mengutarakan pendapat, berdebat. Dialog tidak pernah ada.
Kondisi ini mengingatkan penulis akan tragedi yang sama terjadi tahun 1965, ketika barisan massa Islam bersatu dengan militer melakukan pembantaian terorganisir atas orang-orang PKI atau yang dituduh PKI tanpa proses pengadilan. Histoire se repete. Sejarah memang berulang dengan sendirinya.
Bukan kapasitas penulis untuk memutuskan apakah Ahmadiyah sesat atau tidak. Tapi setahu penulis, Tuhan mengajarkan agar kita tidak berbuat secara berlebihan.
Namun kerusakan yang terjadi sudah sebegitu besar. Jika ini yang terjadi, apa bedanya muslim Indonesia dengan suku Quraisy Mekkah saat masa Rasulullah hidup, yang memboikot sesamanya yang memeluk Islam dan mengakibatkan mereka terusir dari Mekkah ?
 | saya tak mendukung Ahmadiyah...saya bicara atas nama kemanusiaan dan kebangsaan ..... heran dengan prilaku orang Indonesia, mengapa mengusir pribumi sendiri dan menyulitkan hidup sesama pribumi... mengapa tidak mengusir bule-bule dan jepang-jepang yang jelas-jelas tak ketahuan masalah keimanannya dan jelas-jelas pula memeras bangsa kita |
 | hanya kepadaMU kami memohon...hanya kepadaMU kami meminta pertolongan... |
 | Rie sama kawan2 komunitas di bandung pernah mengadakan "diskusi publik" di sebuah toko buku alternatif, membahas sebuah buku ttg Ahmadiyah (nara sumber MUI, penulis buku, dan perwakilan Ahmadiyah)...
Sebuah upaya untuk kita sama2 belajar dan menelaah suatu masalah dgn cara duduk dan berpikir...
Apa yang terjadi kemudian ?... kami dinilai sbg orang2 yg menyebarkan komunisme....dan dikafirkan....
Dalam salah satu dokumentasi liputan tentang perang SARA di salah satu wilayah Indonesia, banyak orang yg mengangkat pedang di tangan kanan...dan mengangkat botol miras di tangan kiri...sementara mulutnya meneriakkan nama Tuhan... ketika nama Tuhan kita main-mainkan, rasanya wajar jika Tuhan sekarang bermain bersama kita lewat gempa, tsunami, kekeringan, dan beragam musibah lainnya....
|
 | hare gene banyak setan bertasbih..iblis bersurban om..
perbedaan dijadikan ajang justifikasi atas kebenaran masing2..
|
 | malu liatnya. katanya demokrasi. Istighfar. |
 | hidup bung yok . . . ! aku dibelakangmu . . . .! leh nee napah tohh . . . |
 | imagine... and no religion too.. |
 | malu gw sbg orang islam, Nabi Muhammad SAW aja memberikan perlindungan pada orang quraisy. lha ni ngaku orang islam tapi kelakuan masih jahiliyah. orang (islam) Indonesia (mungkin termasuk saya) tidak biasa merubah sudut pandang!!! |
 | menyeramkan yach..kenapa manusia bisa dengan mudahnya mengalirkan darah sesamanya atas nama Ketuhanan dan panj-panji agama. Bukankah agama justtru mengajarkan kita menebarkan perdamaian dan cinta kasih terhadap sesama?
|
| |