Di sebuah restoran ada sebuah meja bundar. Meja itu terbuat dari kayu jati yang dipelitur berwarna coklat kemerahan. Kakinya tunggal, bulat besar dengan empat penyangga didasarnya. Kalau kamu mendekatkan hidungmu ke meja tersebut kamu masih bisa mencium aroma kayu dan pelitur bercampur. Meja itu sudah lama berada direstoran tapi masih kokoh.
Diatasnya terdapat sebuah gelas berisi air, tapi tidak penuh, hanya terisi setengahnya. Airnya pasti dingin karena butiran-butiran embun terbentuk di badan gelas. Hmm..segar sekali kelihatannya, saya menelan ludah.
Disamping gelas tersebut, juga diatas meja ada tempat air terbuat dari gelas, airnya penuh dan ada beberapa bongkah es batunya, saya bisa melihatnya walau badan tempat air tersebut diselimti butiran air dari uap air udara sekitar yang terkondensasi.
Dua orang, duduk diantara meja tersebut, mereka berdua duduk di kursi bersandaran kayu juga dengan warna yang sama, joknya dari busa dilapisi vynil warna kuning gading.
Yang seorang berkulit gelap, rambutnya ikal menggunakan setelan jas dengan warna yang sama dengan warna jok kursinya, duh serasi sekali, necis pula, ia mengenakan fedora dengan warna yang serupa dengan jasnya.
Seorang lagi, duduk dihadapannya mengenakan jaket warna hitam, juga kemeja biru tua dibalik jas hitamnya itu. rambutnya pendek, berkacamata, ada rambut-rambut baru tumbuh di janggutnya. Kulitnya lebih terang dari orang dihadapannya.
Si necis berkata kepada temannya "Gelas ini setengah kosong kataku !" Si kacamata membalas "Ah, kau ini pesimis kawan, ini namanya setengah penuh, kamu harus optimis"
Si necis tersenyum lalu berkata
"Akan kubuktikan kepadamu !" Lalu si necis mengambil gelas dihadapan mereka berdua dan meminumnya dengan cepat. Lalu ia menaruh gelas itu diatas meja kembali dengan gerakan cepat. Gelas membentur meja dengan keras. Bak !
"Nah kan ? apa kubilang, sekarang gelas ini kosong bukan ?" kata si necis penuh kemenangan Lalu saya mendengar si kacamata menggerutu panjang, seolah memprotes si necis.
Saya bertopang dagu melihat kejadian tersebut, saya duduk di sudut lain, juga dengan meja bundar dan kursi bersandaran kayu dan ber jok busa berlapis vynil dengan warna kuning gading. Siku saya berada diatas meja bundar.
Saya bergumam
"Andai si kacamata yang optimis mau lebih dulu bergerak menuangkan air ke dalam gelas sehingga penuh dan berkata 'tuh kan, ini gelasnya setengah penuh, sekarang jadi penuh kan ?''"
 | hahaha.... :p saya ikut bergumam: andai yang melihat tak hanya berucap dalam hati tapi bertindak?
eh eh...di comment blog bergerak ada yang bilang: gimana kalo ga bergerak di sini aja? keknya kasusnya sama :d |
 | "Diatasnya terdapat sebuah gelas berisi air, tapi tidak penuh, hanya terisi setengahnya."
pusing gw... bukannya dari pernyataan di atas.... artinya dua2nya benar pada awalnya: setengah penuh dan setenga kosong?
dan berubah menjadi kosong, krn diminum? atau berubah menjadi penuh krn ditambah air?
|
 | very wise guy. Gw ambil kesimpulan, inisiatif menjadi elemen paling penting dalam cerita di jurnal ini. Siapa kalah langkah, ya, ketinggalan kereta. Tks untuk pencerahannya. |
 | Sekarang ini banyak orang pintar, tapi tidak cerdas. Orang cerdas memiliki kemampuan bernama: ketangkasan, yang membuatnya efektif dalam bertindak. sedangkan pintar, terkadang hanya bisa bicara, analisis, tapi mandul tindakan. Ya, nggak Bos...? |
 | Saya bertopang dagu melihat kejadian tersebut
>>> Gw tau yang loe hayalin saat bertopang dagu, cuma alasan kalo lihat kejadian itu sampe topang dagu :)) :))
O iya, ini balesan dr blog WP: Di Timika nga ada yang gratis.... Kencing aja bayar seribu :D Kalo om sendiri dah ada yg diajak sex gratis??, huahuahua.
*Kabuuuuur... ntar ada yg esmosi* |
 | But I'm going to use that as a joke which if it's being submitted and then published, I can earn some money. Pfffff. |
 | woaa...hehhe, sorry to hear that |
 | But I'm going to use that as a joke which if it's being submitted and then published, I can earn some money. Pfffff.  Hmmm, seperti Si kaca mata ^^ *peace* |
| |